"Ketika hati mulai memilih,
Tak ku sangka dialah orangnya..."
Tak ku sangka dialah orangnya..."
Tubuhku terasa kaku, ketika ku lihat dia benar - benar ada di hadapanku.
Senyuman khas mengembang dari bibir manisnya.
Panas dingin tubuhku ketika dia memegang tanganku dan menyematkan cincin di jari manisku.
Ya Allah,
Aku tak menyangka dia yang kan mendampingiku.
Dia yang Kau hadirkan untuk mengisi hidupku & menemani setiap malamku.
Dia yang selama ini ku anggap sahabat bagiku, ternyata adalah orang yang Kau hadirkan sebagai sahabat yang kan selalu menemaniku dalam setiap hariku.
Ya, akhirnya aku menemukan orang yang selama ini aku nanti dalam pencarianku.
"Ibe", orang yang selama ini ku anggap sebagai sahabat terbaikku. Usianya 5 tahun lebih tua daripada aku. Tak pernah terbayang olehku, dia yang kemudian datang melamarku untuk meminangku sebagai istrinya.
Selama ini aku memang terbuai dengan mimpi - mimpi indahku yang pupus bersama mereka. Orang - orang yang berkutat di masa laluku. Dan Ibe yang selama ini ku kenal, selalu menjadi sahabat yang setia mendengarkan segala curahan yang menyesakkan hatiku. Dia selalu setia mendengarkanku dan membatu memberikan solusi dari semua permasalahku. Sungguh tak ku sangka, perjalanan panjang & berliku dalam hubungan persahabatan kami kan berakhir seperti ini.
Masih teringat jelas bagiku, bagaimana aku bisa mengenal Ibe 6 tahun yang lalu?
Pertengahan Desember 2005, pertama kalinya aku ke warnet, pertama kalinya pula aku mengenal dunia internet. Aku masih duduk di kelas 3 SMP semester 1 waktu itu.
Aku mengenal Ibe via chat online di MIRC. Aku merasa tertarik untuk menyapanya karena melihat ID - nya yang unik, I IVI E IVI. Setelah berkenalan dan mengobrol sejenak, akhirnya aku tau dia anak Malang yang telah kerja di Jakarta. Dia lantas meminta nomor HP - ku, dan mengirimkan SMS. Senengnyaaa..... Dapet kenalan baru ! Euforia anak SMP - lah... hahahaha ! :D
Perkenalanku pun berlanjut, kita jadi sering SMSan & Telepon. Sampai - sampai aku bela - belain ganti provider yang sama agar kita tetep bisa keep in touch. Hubungan kita semakin dekat hingga rasanya ada yang kurang bila sehari saja aku tak menerima SMS dari dia. Dia membuatku terkesan dengan perhatiannya, tak pernah ia lupa mengingatkanku untuk sholat jika tiba waktunya. Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku mulai menyayanginya ?! Ataukah hanya perasaan sesaatku?
Perasaan itu semakin tumbuh dan kuat, namun aku segera menutupnya karena aku tak mau kehilangan dia, lagipula aku juga belum pernah melihat dia, apalagi bertemu dengannya. Alasan tak mau kehilangan dia, dianggap bodoh dan tak masuk akal olehnya, tapi tidak untukku.
Aku minder, secara fisik aku sangat tak enak untuk dilihat saat itu. Cewek gendhut, pendek, item, kampungan ! Siapa sih yang mau tulus menerima aku ?!
Ya ! Dalam pikiranku, pastinya dia takkan mau lagi mengenalku jika bertemu denganku. Atau, jika kami sampai putus pastinya aku akan kehilangan dia. Tak terbayang jika tak ada lagi dia dalam kehidupku. Sahabat adalah alasan yang paling tepat untukku agar dia tetap ada bagiku.
Seiring waktu berjalan, aku mulai mengenal cowok - cowok baru dalam hidupku dan membuka hati untuk menerima mereka satu persatu. Dia ?
Kami tetap keep in touch sampai aku menduduki bangku kelas 2 SMA.
Aku mengenal Ibe via chat online di MIRC. Aku merasa tertarik untuk menyapanya karena melihat ID - nya yang unik, I IVI E IVI. Setelah berkenalan dan mengobrol sejenak, akhirnya aku tau dia anak Malang yang telah kerja di Jakarta. Dia lantas meminta nomor HP - ku, dan mengirimkan SMS. Senengnyaaa..... Dapet kenalan baru ! Euforia anak SMP - lah... hahahaha ! :D
Perkenalanku pun berlanjut, kita jadi sering SMSan & Telepon. Sampai - sampai aku bela - belain ganti provider yang sama agar kita tetep bisa keep in touch. Hubungan kita semakin dekat hingga rasanya ada yang kurang bila sehari saja aku tak menerima SMS dari dia. Dia membuatku terkesan dengan perhatiannya, tak pernah ia lupa mengingatkanku untuk sholat jika tiba waktunya. Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku mulai menyayanginya ?! Ataukah hanya perasaan sesaatku?
Perasaan itu semakin tumbuh dan kuat, namun aku segera menutupnya karena aku tak mau kehilangan dia, lagipula aku juga belum pernah melihat dia, apalagi bertemu dengannya. Alasan tak mau kehilangan dia, dianggap bodoh dan tak masuk akal olehnya, tapi tidak untukku.
Aku minder, secara fisik aku sangat tak enak untuk dilihat saat itu. Cewek gendhut, pendek, item, kampungan ! Siapa sih yang mau tulus menerima aku ?!
Ya ! Dalam pikiranku, pastinya dia takkan mau lagi mengenalku jika bertemu denganku. Atau, jika kami sampai putus pastinya aku akan kehilangan dia. Tak terbayang jika tak ada lagi dia dalam kehidupku. Sahabat adalah alasan yang paling tepat untukku agar dia tetap ada bagiku.
Seiring waktu berjalan, aku mulai mengenal cowok - cowok baru dalam hidupku dan membuka hati untuk menerima mereka satu persatu. Dia ?
Kami tetap keep in touch sampai aku menduduki bangku kelas 2 SMA.
Walaupun hampir semua pacarku cemburu dengan kedekatan kami, tapi aku selalu berdalih bahwa dia adalah sahabatku. 3 tahun berlalu, aku masih saja belum bertemu dengannya. Berulang kali aku meminta dia untuk datang sejak aku mengenalnya, tapi dia selalu saja beralasan besok, besok, besok dan besok.
Sampai akhirnya aku berpacaran dengan orang yang ku panggil "abang" yang terlalu over protect kepadaku. Dia sangat cemburu dengan kedekatanku dan Ibe yang saat itu sudah memiliki pacar. Berulang kali dia menghapus nomor HP Ibe dari contact - ku. Tapi tetap saja aku memperoleh nomor HPnya lagi.
Suatu siang, abang membuka Pesan baru di HPku yang ternyata dari Ibe. Tanpa pikir panjang dia langsung memarah - marahi Ibe dan memintanya untuk berhenti SMS aku. Chip kartuku di patah - patahain olehnya.
2 Tahun no keep in touch with Ibe, aku tau dia sering menghubungi nomor ayah dan ibuku untuk mencari info tentang diriku [Nomor beliau sering ku pakai untuk sms dia ketika tak ada pulsa]. Tapi sayangnya tak pernah ada balasan dari mereka karena nomor dia tidak mereka kenal.
Awal tahun 2010, abang akhirnya menyelesaikan kuliahnya lalu kembali pulang ke kotanya. Aku mulai menghubungi Ibe lagi via account Friendsternya, aku memintanya untuk mengirim nomor HP dia ke YM - ku. Dan kami pun mulai berhubungan lagi, dekat dan semakin dekat.
Hubunganku dengan abang yang telah ku jalin 4 tahun pun akhirnya kandas bulan mei 2010. Penyebabnya adalah kehadiran orang ketiga. Abang berpacaran dengan orang yang dia akui selama ini sebagai sahabatnya. Di tengah kegalauanku, Ibe dan sahabat - sahabatku begitu setia menemani hari - hariku. Meskipun hanya by phone, kedekatanku dengan Ibe pun semakin hari terjalin semakin erat.
Pernah suatu kali, untuk pertama kalinya ia berkata sayang kepadaku. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa sangat kehilangan diriku ketika aku menghilang. Dia juga menceritakan bagaimana banyak hal telah dia coba untuk menghubungiku lagi, tapi semuanya tak membuahkan hasil. Aku hanya tersenyum, menganggap kata - kata sayangnya sebagai sebuah omong kosong karena aku saat itu memang tak lagi percaya tentang cinta. Terlalu banyak luka dan kecewa yang ku peroleh dari kesetiaan dan pertualangan cintaku.
Juli 2010, aku memintanya untuk datang ke Jogja tapi seperti biasa dia selalu beralasan. Aku sadar, rasa takutnya dan perasaan belum siap bertemu denganku terlalu membelenggu perasaan dia. Tapi sampai kapan ? Aku lelah menunggu hal yang tak pasti !
Aku pun memulai kembali pertualangan cintaku dengan orang lain. Ibe perlahan menjauh dariku, ku tangkap kegalauan dari status Facebook yang dia update. Hubunganku dengan pacar baruku ini tak berlangsung lama, hanya 1 bulan bertahan. Ternyata aku salah menerima orang, yang ku temui adalah seorang pecundang yang menduakanku pula.
Ibe kembali hadir setelah aku kembali intens menghubunginya. Berulang kali dia mengatakan sayang, tapi ku acuhkan. Perhatiannya kepadaku, memang sempat membuat hatiku hampir luluh! Namun aku kembali menutup hati. Dia sahabatku, lagipula aku tak mau dia kecewa jika tau aku bukan lagi diriku yang dulu dia kenal. Aku juga belum pernah bertemu dengannya, meskipun aku memang telah lama mengenalnya.
Lagi - lagi aku meminta dia untuk datang ke Jogja menemuiku saat itu, tapi dia tak pernah memenuhi permintaanku dengan berbagai alasan. Perlahan aku mulai lelah menunggu kehadirannya, 4 bulan berjalan dia pun tak kunjung datang.
Desember 2010, tepat di 2 hari sebelum ulang tahunku aku menerima orang lain sebagai pacarku. Dia tak hanya sangat kecewa kepada dirinya sendiri atas hal ini. Dia juga kecewa karena aku benar - benar membuktikan perkataan yang pernah terucap dari mulutku, "Jangan salahkan aku kalau aku kemudian menerima cowok lain lagi karena kamu ga dateng - dateng,".
1 minggu setelah aku jadian dengan pacar baruku, dia nekat datang ke Jogja untuk menemuiku tanpa mengabariku. Jujur aku bingung dengan maksud kedatangan dia saat itu, tapi akhirnya ku putuskan untuk menemuinya dan pastinya mengenalkan dia kepada pacar baruku.
Bersama pacar dan sahabatku, aku mengajak dia untuk maen ke rumahku. Di sanalah orang tuaku berkenalan dengan dia dan begitu respect terhadapnya karena dia memang seperti yang aku bayangkan. Sikap santunnya dan agamisnya membuat orang tuaku menyukainya.
Hmmmm.....
Setelah pulang ke jakarta sikapnya berubah drastis kepadaku, bisa dibilang 2 minggu sekali dia SMS aku dan jika aku yang sms pun jarang sekali dia membalas smsku. Aku memang telah memiliki pacar, namun rasa kehilangan dia sangat aku rasakan saat itu. 1 Hal yang dia bilang, "Aku takut kehadiranku justru mengganggu hubunganmu dengan pacarmu" :(
Akhir agustus 2011 aku putus dengan pacarku karena perbedaan prinsip yang tak bisa kami satukan. sejak saat itulah hubunganku dengan ibe kembali membaik. Mengetahui aku putus dengan pacarku, orang tuaku berniat menjodohkanku. Ditengah galauku, dia yang selalu memberi support kepadaku, aku pun menceritakan keinginan orang tuaku menjodohkanku.
Dia lantas kaget dan bertanya "Kamu dijodohin? Lantas aku sama siapa?,"
Aku kaget mendengar ucapannya, sambil tertawa aku menjawab "Ngomong apa sih kamu Be ? Emangnya kamu beneran serius mau nikah sama cewek kaya' aku? Yakin kamu nggak nyesel ? kalo emang serius, ngomong sana sama bapakku,"
Dia lantas terdiam sejenak, kemudian mencoba menawarkan hubungan pacaran denganku. Aku langsung menolaknya dengan halus, ya...
Ku katakan kepadanya pagi itu, "Aku mungkin bisa menunggu sampai kamu siap, tapi nggak untuk orang tuaku. Aku nggak mau nyakitin kamu,"
Dia diam tanpa kata, aku tau dia galau begitu juga denganku saat itu.
Dia terus berpikir, dia bilang takut tak bisa membahagiakanku dengan apa yang dia punya sekarang. Namun aku berusaha meyakinkannya, ku katakan bahwa aku bukanlah cewek matre yang memandang semuanya dari harta tapi dari ketulusan hati mengasihiku. Dan dia pun akhirnya memutuskan untuk segera melamarku, dia tak ingin kehilanganku lagi untuk kesekian kalinya.
Orang tuaku menyambut kabar tersebut dengan sangat gembira, tentang aku dijodohin ? Entahlah, rencana itu dicancel begitu saja. Dan akhirnya tanggal 19 - 11 - 2011, dia hadir bersama keluarganya dari Malang ke rumahku. Di saksikan warga se - RT tempatku tinggal, dia melamarku dan bertunangan denganku. Ku ucapkan syukur Alhamdulillah..... Lega rasanya hatiku, pencarian panjangku kini telah berakhir.
Sampai akhirnya aku berpacaran dengan orang yang ku panggil "abang" yang terlalu over protect kepadaku. Dia sangat cemburu dengan kedekatanku dan Ibe yang saat itu sudah memiliki pacar. Berulang kali dia menghapus nomor HP Ibe dari contact - ku. Tapi tetap saja aku memperoleh nomor HPnya lagi.
Suatu siang, abang membuka Pesan baru di HPku yang ternyata dari Ibe. Tanpa pikir panjang dia langsung memarah - marahi Ibe dan memintanya untuk berhenti SMS aku. Chip kartuku di patah - patahain olehnya.
2 Tahun no keep in touch with Ibe, aku tau dia sering menghubungi nomor ayah dan ibuku untuk mencari info tentang diriku [Nomor beliau sering ku pakai untuk sms dia ketika tak ada pulsa]. Tapi sayangnya tak pernah ada balasan dari mereka karena nomor dia tidak mereka kenal.
Awal tahun 2010, abang akhirnya menyelesaikan kuliahnya lalu kembali pulang ke kotanya. Aku mulai menghubungi Ibe lagi via account Friendsternya, aku memintanya untuk mengirim nomor HP dia ke YM - ku. Dan kami pun mulai berhubungan lagi, dekat dan semakin dekat.
Hubunganku dengan abang yang telah ku jalin 4 tahun pun akhirnya kandas bulan mei 2010. Penyebabnya adalah kehadiran orang ketiga. Abang berpacaran dengan orang yang dia akui selama ini sebagai sahabatnya. Di tengah kegalauanku, Ibe dan sahabat - sahabatku begitu setia menemani hari - hariku. Meskipun hanya by phone, kedekatanku dengan Ibe pun semakin hari terjalin semakin erat.
Pernah suatu kali, untuk pertama kalinya ia berkata sayang kepadaku. Dia mengungkapkan bahwa dia merasa sangat kehilangan diriku ketika aku menghilang. Dia juga menceritakan bagaimana banyak hal telah dia coba untuk menghubungiku lagi, tapi semuanya tak membuahkan hasil. Aku hanya tersenyum, menganggap kata - kata sayangnya sebagai sebuah omong kosong karena aku saat itu memang tak lagi percaya tentang cinta. Terlalu banyak luka dan kecewa yang ku peroleh dari kesetiaan dan pertualangan cintaku.
Juli 2010, aku memintanya untuk datang ke Jogja tapi seperti biasa dia selalu beralasan. Aku sadar, rasa takutnya dan perasaan belum siap bertemu denganku terlalu membelenggu perasaan dia. Tapi sampai kapan ? Aku lelah menunggu hal yang tak pasti !
Aku pun memulai kembali pertualangan cintaku dengan orang lain. Ibe perlahan menjauh dariku, ku tangkap kegalauan dari status Facebook yang dia update. Hubunganku dengan pacar baruku ini tak berlangsung lama, hanya 1 bulan bertahan. Ternyata aku salah menerima orang, yang ku temui adalah seorang pecundang yang menduakanku pula.
Ibe kembali hadir setelah aku kembali intens menghubunginya. Berulang kali dia mengatakan sayang, tapi ku acuhkan. Perhatiannya kepadaku, memang sempat membuat hatiku hampir luluh! Namun aku kembali menutup hati. Dia sahabatku, lagipula aku tak mau dia kecewa jika tau aku bukan lagi diriku yang dulu dia kenal. Aku juga belum pernah bertemu dengannya, meskipun aku memang telah lama mengenalnya.
Lagi - lagi aku meminta dia untuk datang ke Jogja menemuiku saat itu, tapi dia tak pernah memenuhi permintaanku dengan berbagai alasan. Perlahan aku mulai lelah menunggu kehadirannya, 4 bulan berjalan dia pun tak kunjung datang.
Desember 2010, tepat di 2 hari sebelum ulang tahunku aku menerima orang lain sebagai pacarku. Dia tak hanya sangat kecewa kepada dirinya sendiri atas hal ini. Dia juga kecewa karena aku benar - benar membuktikan perkataan yang pernah terucap dari mulutku, "Jangan salahkan aku kalau aku kemudian menerima cowok lain lagi karena kamu ga dateng - dateng,".
1 minggu setelah aku jadian dengan pacar baruku, dia nekat datang ke Jogja untuk menemuiku tanpa mengabariku. Jujur aku bingung dengan maksud kedatangan dia saat itu, tapi akhirnya ku putuskan untuk menemuinya dan pastinya mengenalkan dia kepada pacar baruku.
Bersama pacar dan sahabatku, aku mengajak dia untuk maen ke rumahku. Di sanalah orang tuaku berkenalan dengan dia dan begitu respect terhadapnya karena dia memang seperti yang aku bayangkan. Sikap santunnya dan agamisnya membuat orang tuaku menyukainya.
Hmmmm.....
Setelah pulang ke jakarta sikapnya berubah drastis kepadaku, bisa dibilang 2 minggu sekali dia SMS aku dan jika aku yang sms pun jarang sekali dia membalas smsku. Aku memang telah memiliki pacar, namun rasa kehilangan dia sangat aku rasakan saat itu. 1 Hal yang dia bilang, "Aku takut kehadiranku justru mengganggu hubunganmu dengan pacarmu" :(
Akhir agustus 2011 aku putus dengan pacarku karena perbedaan prinsip yang tak bisa kami satukan. sejak saat itulah hubunganku dengan ibe kembali membaik. Mengetahui aku putus dengan pacarku, orang tuaku berniat menjodohkanku. Ditengah galauku, dia yang selalu memberi support kepadaku, aku pun menceritakan keinginan orang tuaku menjodohkanku.
Dia lantas kaget dan bertanya "Kamu dijodohin? Lantas aku sama siapa?,"
Aku kaget mendengar ucapannya, sambil tertawa aku menjawab "Ngomong apa sih kamu Be ? Emangnya kamu beneran serius mau nikah sama cewek kaya' aku? Yakin kamu nggak nyesel ? kalo emang serius, ngomong sana sama bapakku,"
Dia lantas terdiam sejenak, kemudian mencoba menawarkan hubungan pacaran denganku. Aku langsung menolaknya dengan halus, ya...
Ku katakan kepadanya pagi itu, "Aku mungkin bisa menunggu sampai kamu siap, tapi nggak untuk orang tuaku. Aku nggak mau nyakitin kamu,"
Dia diam tanpa kata, aku tau dia galau begitu juga denganku saat itu.
Dia terus berpikir, dia bilang takut tak bisa membahagiakanku dengan apa yang dia punya sekarang. Namun aku berusaha meyakinkannya, ku katakan bahwa aku bukanlah cewek matre yang memandang semuanya dari harta tapi dari ketulusan hati mengasihiku. Dan dia pun akhirnya memutuskan untuk segera melamarku, dia tak ingin kehilanganku lagi untuk kesekian kalinya.
Orang tuaku menyambut kabar tersebut dengan sangat gembira, tentang aku dijodohin ? Entahlah, rencana itu dicancel begitu saja. Dan akhirnya tanggal 19 - 11 - 2011, dia hadir bersama keluarganya dari Malang ke rumahku. Di saksikan warga se - RT tempatku tinggal, dia melamarku dan bertunangan denganku. Ku ucapkan syukur Alhamdulillah..... Lega rasanya hatiku, pencarian panjangku kini telah berakhir.
Telah ku temukan dia sang sahabatku, kekasihku, sekaligus calon ayah untuk anak - anakku kelak. Bismillah, doaku mengharap Ridho - Mu, mengharap pula doa kalian. amin
Semoga rencana tanggal 26 - 02 - 2012 tak diundur lagi dan bisa berjalan dengan lancar :)
Quote : Jangan pernah menunda - nunda sesuatu hal, meskipun kau anggap itu biasa. Ungkapkan dan lakukanlah tanpa harus menunggu lagi, atau kau akan mengalami penyesalan seumur hidupmu jika kau terlambat ! Regards, ^o^/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar